Project Kasih Sayang

“Seorang anak memiliki hak, (1) Diberikan nama yang baik, (2) Diajarkan al-Qur’an, (3) Dipilihkan seorang ibu yang baik”

–Umar Bin Khattab

Alfiyanti Rohmah (nama saya) artinya adalah seribu kerahmatan atau kasih sayang. Seperti perkataan Umar bin Khattab, nama yang baik adalah salah satu hak anak. Dan saya bersyukur karena telah diberikan nama yang baik oleh kedua orang tua saya. Namun bagi saya, nama juga adalah sebuah amanah (kepercayaan) orang tua terhadap anaknya sebab terdapat sebuah visi yang tertuang di dalamnya, lalu tugas anak adalah menentukan misi untuk mencapai visi tersebut. Maka sebaik-baik anak adalah yang paling baik dalam menjalankan amanahnya. Semenjak saya memahami arti nama saya, maka saya segera berbenah diri dan menyusun sebuah project yang baru-baru ini saya beri nama “Project Kasih Sayang”.

Dalam rangka melaksanakan Project Kasih Sayang, saya berusaha untuk menolong serta bermanfaat bagi siapapun. Misalnya dalam keluarga, saya terbiasa membantu adik saya mengerjakan pekerjaan rumahnya bila ia kesulitan dalam menuntaskannya. Juga biasanya, saya membantu bapak saya memberi makan kambing dan menjaganya ketika beliau tak ada di rumah. Semuanya terasa menyenangkan ketika dapat membantu orang yangmembutuhkan kita.

Pun ketika duduk di bangku SMK, saya bisa dikatakan sebagai orang yang dijadikan tempat untuk berkeluh kesah bagi teman-teman saya. Ternyata banyak permasalah yang dihadapi oleh mereka dan sebagian besar dari mereka katanya bingung untuk memecahkan masalahnya sendiri. Padahal rata-rata dari mereka, sebetulnya sudah mengetahui dan bisa menyelesaikan masalahnya. Ternyata mereka itu sebetulnya berkeluh-kesah bukan untuk mencari jalan keluar terhadap masalahnya tetapi mereka hanya butuh untuk didengar, butuh teman yang mengerti perasaanya. Maka Project Kasih Sayang yang dulu sering saya lakukan ketika sekolah yaitu mewujudkan pemenuhan hak anak untuk didengar, meskipun saat itu saya masih tergolong anak.

Project Kasih Sayang selanjutnya adalah dengan berkontribusi aktif dalam organisasi tingkat kabupaten, yaitu Forum Anak Kabupaten Bogor. Disana saya dan teman-teman seangkatan berusaha untuk memperjuangkan hak-hak anak yang tertuang dalam UU No. 23 Tahun 2002. Banyak upaya yang dilakukan, mulai dari belajar dengan anak jalanan, mengadakan workshop dan lomba-lomba untuk menyalurkan bakat anak, hingga menyuarakan pendapat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Bogor  untuk mewakili keinginan anak terhadap program pemerintah.

Namun seiring berjalannya waktu, saya berpikir, kenapa masih saja terdapat kenakalan remaja ketika hak-haknya secara hukum telah disahkan bahkan telah diterapkan oleh pemerintah? Seperti ketika anak usia remaja mendapatkan haknya untuk memperoleh pendidikan, mendapat penghidupan yang layak, hak untuk bermain, tapi tidak serta merta menimbulkan nilai-nilai positif pada anak secara keseluruhan. Seharusnya dengan terpenuhinya hak anak, sikap anak menjadi semakin baik dan dapat berkontribusi untuk negara, bangsa, dan agamanya.

Berkaca dari hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa anak hanya mendapatkan haknya secara hukum, tapi secara agama masih dikatakan kurang. Anak harus diberikan pemenuhan hak dalam hal agama sehingga ketika diberikan haknya secara hukum, ia tak menyalahgunakan dan menyimpang dari haknya itu. Meskipun background pendidikan saya bukanlah lulusan Pondok Pesantern atau MAN, setelah menyadari banyak anak yang masih perlu dipenuhi haknya dalam hal agama, saya memutuskan untuk memperjuangkan hak anak di bidang lain (di bidang agama). Saya mulai menanamkan rasa cinta kepada Al-Quran dalam diri saya kemudian saya mengajak keluarga, teman-teman, dan adik-adik binaan saya untuk membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Quran sedikit demi sedikit. Saya pun terus belajar untuk memahami Al-Quran dan mengajarkannya kepada orang lain.

Sebab Al-Quran akan menuntun ke jalan yang lurus, Al-Quran juga dapat membuat hati menjadi tenang. Ketika seseorang telah merasakan ketenangan dalam dirinya, maka akan senantiasa berbuat baik. Namun ketika hati tak tenang, maka cenderung melakukan hal-hal yang menyimpang. Contohnya, ketika anak tak tenang menjalankan suatu ujian, maka anak akan cenderung mencari celah untuk menyontek. Beda dengan yang jiwanya tenang, ia akan optimis dalam menjawab soal. Maka tak heran, jika sila pertama dari ideologi negara kita yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketika warga negara telah memiliki keyakinan dan taat kepada Tuhannya (menerapkan sila pertama), maka sila kedua sampai sila kelima akan otomatis teramalkan. Sebab sila kedua sampai sila kelima telah diajarkan dalam sila pertama.

Dimasa mendatang saya ingin melakukan Project Kasih Sayang dengan menjadi guru yang menanamkan cinta kepada Al-Quran, merasa dekat dengan Al-Quran. Kemudian saya juga ingin memetakan kemampuan siswa dalam hal metode menghafal Al-Quran. Banyak metode menghafal Al-Quran, namun tak semua anak dapat melakukan metode tersebut. Sebagai contoh, saya lebih bisa menghafal dengan cara mengulang-ulang bacaan Al-Quran yang akan saya hafal. Namun beda halnya dengan teman saya yang bisa menghafal dengan metode gerakan. Juga ada lagi yang menghafal Al-Quran dengan cara mendengarkan murottal. Maka dari itu, dibutuhkan pemetaan dalam hal metode menghafal Al-Quran. Anak perlu diarahkan dalam menemukan metode yang  tepat sehingga dia bisa betah berlama-lama dengan Al-Quran, memahami dan merasa dekat dengan Al-Quran sehingga dapat mengamalkan Al-Quran di kehidupannya. Dengan banyaknya penghafal dan pengamal Al-Quran, semoga semakin berkurang kenakalan remaja yang ada di Indonesia.

 

#Beasiswa Bazma Pertamina

Iklan

SEJARAH, KEDUDUKAN, DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA

A. Sejarah Bahasa Indonesia

     Ditengah-tengah Benua Asia, diperkirakan di sekitar Taiwan, pada 25 abad yang lampau terdapat kelompok bangsa yang menggunakan tutur bahasa Austria. Setelah beberapa waktu, sebagian dari mereka berpencar pindah menuju selatan sehingga tersebar menjadi kelompok-kelompok kecil.

  Menurut perkembangannya, akhirnya bahasa Austria pun terpecah menjadi dua kelompok, yakni rumpun bahasa Austro-Asia dan bahasa Austronesia (Melayu Polonesia). Bahasa-bahasa yang termasuk rumpun, Austro-Asia, yaitu bahasa Munda, Santali, Mon-Khemer di India, serta bahasa Semang dan Sakai di Malaka. Rumpun bahasa Austronesia yang memiliki batas wilayah barat, yaitu Pulau Madagaskar. Adapun yang memiliki batas timur, yaitu Pulau Paas, sedangkan batas utara, yaitu Pulau Formosa; batas selatan, yaitu Pulau Selandia Baru. Dalam hal ini bahasa Indonesia dipercayai sebagai bahasa Melayu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bahasa Indonesia termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia/Melayu Polenesia.

   Sudah berabad-abad, bahasa Melayu dipakai sebagai alat perhubungan di antara penduduk Indonesia yang mempunyai bahasa yang berbeda. Bangsa asing yang datang ke Indonesia juga memakai bahasa Melayu untuk berkomunikasi dengan penduduk setempat.

    Kehidupan bahasa Melayu selain dipakai sebagai lingua franca di Indonesia ada pula pengaruhnya dari bahasa lain, yaitu bahasa asing. Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa yang sangat banyak memberikan tambahan perbendaharaan bahasa Melayu. Selain bahasa Arab, bahasa yang banyak memberikan tambahan kosa kata terhadap bahasa Melayu ialah bahasa Portugis. Selain bahasa Arab dan Portugis, terdapat juga bahasa Sansekerta, bahasa Tamil, dan bahasa Cina yang juga mempengaruhi dan memperkaya perbendaharaan kata bahasa Melayu. Jadi, bahasa Melayu yang ditetapkan menjadi dasar bahasa Indonesia juga telah diperkaya dengan bahasa lain. Hal ini dapat terjadi karena bahasa Melayu telah dipakai sebagai bahasa perdagangan oleh berbagai pedagang dari berbagai negera tersebut.

    Pedagang-pedagang dari Gujarat dan Cina yang hendak melakukan transaksi jual beli harus melewati Bandar Malaka di Selat Malaka. Dan akhirnya, bahasa Melayu menjadi bahasa perdagangan, bahasa ekonomi di Nusantara. Bahasa Melayu sudah menjadi milik orang di Nusantara, terutama bagi orang-orang yang terlibat dalam perdagangan tersebut. Proses tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan bersifat alami.

     Oleh sebab itu, pada saat bangsa memerlukan sebuah bahsa sebagai bahasa persatuan yang dapat dijadikan sebagai alat komunikasi secara nasional, penunjukan bahasa Melayu disetujui secara aklamasi. Dengan begitu, bahasa-bahasa yang ada di Indonesia (selain bahasa Melayu), dengan rela dan senang hati menerima keputusan tersebut.

      Bahasa Indonesia pada awalnya berfungsi sebagai bahasa penghubung (lingua franca) dari waktu ke waktu mengalami perkembangan sedemikian rupa sehingga bahasa Indonesia menjadi suatu bahasa persatuan, yang pada akhirnya berkedudukan sebagai bahasa Negara dan bahasa nasional. Beratus-ratus tahun bahasa Melayu, sebagai dasar bahasa Indonesia, yang berfungsi sebagai lingua franca di Nusantara hidup dengan kosa kata yang berkembang secara lambat. Proses perkembangan bahasa Melayu, sebelum menjadi bahasa Indonesia, dalam mencapai sebarannya ke seluruh Nusantara, merupakan proses alami yang tidak dipaksakan oleh suatu etnis tertentu.

Berdasarkan berbagai petunjuk, pada zaman Sriwijaya bahasa Melayu sudah sangat berfungsi. Fungsi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa resmi kerajaan.

2. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku-buku yang berisi aturan-aturan hidup dan sastra.

3. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa penghubung antarsuku bangsa yang berada di bawah kekuasaan Sriwijaya.

4. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa perdagangan di kerajaan tersebut. (Amran Tasai, 2009: 2.3)

     Ada beberapa kekuatan yang dimiliki oleh bahasa Melayu, yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Kekuatan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut ini.

1. Bahasa Melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan, dan bahasa perdagangan.

2. System bahasa Melayu lebih sederhana, mudah dipelajari, karena dalam bahasa tersebut tidak ada tingkatan bahasanya atau perbedaan bahasa kasar dan halus seperti bahasa Jawa dan Sunda.

3. Bahasa Melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.

     Pada masa penjajahan Belanda, hanya sekelompok kecil di Indonesia yang dapat berbahasa Belanda. Pemerintah Belanda tidak mau menyebarkan pemakaian bahasa Belanda pada penduduk pribumi. Dengan demikian, komunikasi antara pemerintah dan penduduk Indonesia yang berbeda bahasanya sebagian besar dilakukan dengan bahasa Melayu. Pun pada masa penjajahan Belanda, banyak surat kabar yang ditulis dalam bahasa Melayu.

B. Kedudukan Bahasa Indonesia

     Pada 28 Oktober 1928, para pemuda menyerukan satu keinginan serta tekad bulat bahwa bahasa Melayu diubah namanya menjadi bahasa Indonesia yang diikrarkan dalam sumpah pemuda sebagai bahasa persatuan atau bahasa nasional. Lalu dicetuskanlah bahasa Indonesia dalam suatu ikrar pemuda yang disebut “Sumpah Pemuda”. Dalam butir Sumpah Pemuda yang ketiga, berubahnya bahasa Indonesia sebagai lingua franca dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dapat dikatakan bahwa secara kronologis, bahasa Melayu telah berkembang dari lingua franca menjadi bahasa persatuan, dan menjadi bahasa Negara hingga saat ini.

    Sehari sesudah proklamasi kemerdekaan, pada 18 Agustus ditetapkan Undang-Undang Dasar 1945 yang di dalamnya terdapat pasal, yaitu pasal 36, yang menyatakan bahwa “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”. Dengan demikian, disamping berkedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia juga berkedudukan sebagai bahasa Negara.

     Perhatian terhadap bahasa Indonesia, baik dari pemerintah maupun masyarakat sangat besar. Pemerintah orde lama dan orde baru menaruh perhatian yang besar terhadap perkembangan bahasa Indonesia di antaranya melalui pembentukan lembaga yang mengurus masalah kebahasaan yang dinamakan Pusat Bahasa, sekarang menjadi Badan Bahasa dan menyelenggrakan kongres bahasa Indonesia. Perubahaan ejaan bahasa Indonesia dari Ejaan van Ophuisyen ke Ejaan Soewandi hingga Ejaan Yang Disempurnakan selalu mendapat tanggapan dari masyarakat. (Depdiknas, 2006:12)

     Dewasa ini, tampaknya Warga Negara Indonesia lebih bangga memakai dan berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia, karena berasumsi tidak hanya sebagai bahasa internasional tetapi mempunyai nilai rasa lebih jika menggunakan bahasa asing. Tampaknya menjadi terbiasa bagi generasi muda ketika menggunakan bahasa asing, misalnya “ok, on the way, weekend, outfit of the day, congratulations, get well soon, don’t worry, I’m sorry,” dll. Pemakaian kata-kata asing tersebut menjadi suatu yang amat lazim dan telah menjadi tren. Dengan contoh kecil tadi, menyadarkan bahwa semakin memudarnya kesadaran akan fungsi bahasa Indonesia sebagai alat pelambang jati diri nasional.

     Dengan melihat sejarah perkembangannya, mungkin kita dapat memahami bahwa bahasa Indonesia diangkat dari bahasa Melayu yang telah lama dipakai sebagai lingua franca, bahasa perhubungan yang luas, selama berabad-abad sebelumnya di seluruh wilayah nusantara. Dalam hal ini, bahwa dalam masyarakat yang multiteknik dan multibahasa tidak terjadi “persaingan bahasa” antara bahasa daerah yang satu dan bahasa daerah yang lain. Hal ini memungkinkan pemilihan bahasa Melayu sebagai dasar bahasa Indonesia tidak mengalami kesukaran.

C. Fungsi Bahasa Indonesia

     Untuk memahami fungsi bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, yaitu :

(1) Fungsi pertama sebagai kedudukannya sebagai lambang kebanggaan nasional. Dalam KBBI, makna kebanggaan sebagai “kebesaran hati, perasaan bangga, kepuasan diri”. Kebanggan nasional adalah “sikap menghargai warisan, hasil karya, dan semua hal lain yang menjadi milik bangsa sendiri”.

(2) Fungsi kedua dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional bahwa bahasa Indonesia menjadi lambang identitas nasional. Lambang identitas yang lainnya ialah merah putih.

(3) Fungsi bahasa yang ketiga dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional adalah menjadi alat yang memungkinkan terwujudanya penyatuan berbagai suku bangsa yang memiliki latar belakang social budaya dan bahasa yang berbeda-beda dalam satu kesatuan kebangsaan yang bulat.

(4) Fungsi keempat dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahwa bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat perhubungan antarbudaya dan antardaerah.

     Setelah diikrarkannya Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, bahwa bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang tinggi, yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945, yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara.

     Bahasa Indonesia mempunyai empat fungsi dalam kedudukannya sebagai bahasa Negara, yaitu :

(1) bahasa resmi kenegaraan;

(2) bahasa pengantar dalam dunia pendidikan;

(3) bahasa perhubungan tingkat nasional; dan

(4) bahasa pengembang kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi modern.

Faktor-Faktor yang Memperkuat Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia

(1) Faktor Idiil

   Sumpah Pemuda merupakan faktor idiil yang berkaitan dengan cita-cita kebangsaan Indonesia. Dengan adanya faktor idiil bahasa Indonesia tidak terguguat kedudukannya karena secara nyata berkaitan erat dengan cita-cita, mewujudkan kebangsaan Indonesia, karena bahasa Indonesia sebagai salah satu pilar berdirinya kebangsaan Indonesia.

(2) Faktor Konstitusional

  Faktor yang memperkuat  fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia ada dalam Undang-Undang Dasar 1945, dengan dicantumkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi Negara, semakin memperkuat bahasa Indonesia. Faktor kosntitusional dalam Undang-Undang Dasar 1945 memberikan landasan konstitusi bagi kedudukan bahasa Indonesia. Dengan adanya sumber hukum tersebut membawa pengaruh bagi perkembangan bahasa Indonesia. Pencantuman bahasa Indonesia dalam undang-undang tidak akan tercapai jika tidak adanya sumpah pemuda.

(3) Faktor Kebahasaan

   Faktor kebahasaan merupakan faktor yang terlibat langsung dengan bahasa. Faktor kebahasaan ini dapat dibagi menjadi faktor internal kebahasaan dan faktor eksternal kebahasaan. Keduanya dapat memberikan dasar bagi pemilihan suatu bahasa untuk menduduki status di atas bahasa lain yang merupakan lingkungannya.

D. Fungsi dari Bahasa Indonesia  

Fungsi bahasa Indonesia secara umum, yaitu :

a.  Sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan

b.  Sebagai alat komunikasi

c.  Sebagai alat erinteraksi dan beradaptasi social

d.  Sebagai alat control social

Fungsi bahasa Indonesia secara khusus, yaitu :

a.  Mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari

b.  Mewujudkan seni (sastra)

c.  Mempelajari bahasa kuno

d.  Mengeksploitasi IPTEK

Simpulan

1. Sistem bahasa Melayu lebih sederhana, mudah dipelajari, karena bahasa tersebut tidak mengenal perbadaan bahasa kasar dan halus sehingga bahasa Melayu dijadikan alat komunikasi secara nasional dan disetujui secara aklamasi.

2. Bahasa Indonesia terus mengalami perkembangan. Salah satu contohnya ialah, dibentuknya Badan Bahasa dan menyelenggarakan kongres bahasa Indonesia. Serta adanya perubahan ejaan bahasa Indonesia dari Ejaan van Ophuiysen ke Ejaan Soewandi hingga Ejaan Yang Disempurnakan.

3. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai lambang kebanggaan nasional, sebagai lambang jati diri nasional, sebagai alat pemersatu suku bangsa, dan sebagai alat perhubungan antarbudaya dan antardaerah.

4. Dalam kedudukannya sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia memiliki beberapa fungsi, yaitu bahasa resmi kenegaraan, bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, bahasa penghubung tingkat nasional, bahasa pengembang kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi modern.

5. Fungsi bahasa Indonesia secara umum, yaitu sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan, sebagai alat komunikasi, sebagai alat interaksi dan beradaptasi social, dan sebagai alat control social.

6. Fungsi bahasa Indonesia secara khusus, yaitu mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), memperlajari bahasa kuno, dan mengeksplorasi IPTEK.

Referensi  

Ahmadi, Muchsin. 1990. Sejarah dan Standardisasi Bahasa Indonesia. Bandung: Sinar Baru

Algesindo. Alex dan Ahmad HP. 2010. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Azwar, Nasrul 2008. Sekilas Tentang Sejarah Bahasa Indonesia. Bandung: Balai Bahasa.

Halim, Amran. 1985. Membina Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Kanzunnudin, Muhammad. 2011. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Rembang: Yayasan Adhi Gama.

Moeliono, Anton. 1985.  Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Jakarta: Pusta Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Resume oleh :

Alfiyanti Rohmah – Ilmu Agama Islam 2016 

Saatnya MoveOn!

Tahun ajaran baru bisa diibaratkan sebagai awal perjalanan untuk menorehkan cerita di riwayat pendidikan kita, dan kitalah yang dipaksa menjadi penulis, sutradara, sekaligus produsernya. Sekarang, cerita itu dibalikkan lagi ke kita, apakah cerita itu akan berakhir happy atau sad ending?


Kawan, kita telah memasuki zona yang waktu kita akan disita olehnya. Yap, kita telah kembali ke sekolah. Setelah lama berlibur, setelah menabung sekian banyak energy untuk mengahadapi tahun ajaran baru, sekarang waktunya kita terjun ke lapangan hehe. Iya kawan, sekarang kita ditantang untuk take action. So, make your dream comes true🙂 Katanya kepingin jadi orang sukses? Inilah saatnya untuk move on, untuk membuktikan bahwa kita lebih baik dari tahun ajaran yang lalu atau pun sekolah yang lalu.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan sedikit tips untuk menghadapi tahun ajaran baru atau sekolah baru.

Tips 1 : Luruskan niat

Niat kita pergi ke sekolah adalah untuk menuntut ilmu, bukan untuk mendapat uang saku, bukan untuk berkumpul ketawa-ketiwi dengan teman dan juga bukan untuk mendapat teman dekat baru yaa kawan hehe. Kita disekolahkan oleh orang tua kita untuk menjadi orang yang berguna bagi Tanah Air tercinta dan untuk agama kita, dan bisa jadi untuk menggantikan posisi Pak Jokowi suatu saat nanti atau menjadi bagian dari sejarah dunia yang namanya akan diabadikan. Amiin! Maka dari itu, marilah kita luruskan niat kita untuk menuntut ilmu, untuk jadi orang yang berguna.

Tips 2 : Buat list atau daftar target

Terkadang, hal yang membuat waktu kita terbuang sia-sia adalah karna kita tak tau hal atau aktivitas apa yang mesti kita lakukan. Nah, sama halnya dengan belajar, sama halnya dengan sekolah, kita perlu membuat daftar target yang harus kita capai. Target itu bisa untuk jangka waktu satu hari, satu minggu, satu semester, atau satu tahun.

Misalkan, nilai ulangan harian pertama diatas 80 dan ulangan harian kedua diatas 85 atau misalnya ingin mentargetkan diri untuk juara Olimpiade Sains tingkat Kabupaten atau bahkan tingkat Nasional atau misalnya mentargetkan diri untuk peraih UN tertinggi se-Nasional. Membuat target dan focus mengejarnya, bisa mencegah kita untuk melakukan perbuatan yang sia-sia karna kita focus dan gigih untuk mencapai target tersebut.  Buat lah target setinggi mungkin, tantang diri kita untuk melakukan hal yang luar biasa. Ready? Let’s take actions!

Tips 3 : Ubah mindset atau pola pikir

Dalam belajar, kita memerlukan sugesti yang positive agar kita mudah menyerap pelajaran yang akan kita pelajari. Buang jauh-jauh pikiran negative yang ada dalam diri kita. Buang jauh kalimat seperti,

“Ah, ini kan matematika. Hitung-hitungan? Otak ku tak mampu laah:(” atau

“Yah, gurunya galak, mana bisa aku belajar dengan guru yang galak”.

Karna sugesti yang ada dalam otak kita kemungkinan besar akan terjadi. Maka jika sugesti kita negative, maka hasilnya pun akan negative.

Tips 4 : Do it

Dalam prosesnya, belajar memang tak selamanya menyenangkan. Ada pelajaran yang dengan mudah kita serap, dan ada pelajaran yang harus berulang kali kita pelajari kembali agar kita paham. Namun, kita harus tetap focus dalam belajar. Saat kita mulai merasa lelah, ingat lagi target-target yang harus kita capai. Karna, pelaut yang handal tak terlahir dari ombak yang tenang, kawan.

Tips 5 : Hubungan dengan-Nya

Kita harus sadar, segala sesuatu di dunia ini adalah milik-Nya. Termasuk kecerdasan dalam berfikir, maka kurang lengkap rasanya bila proses belajar ini berjalan tanpa campur tangan dariNya. Yap, selain berusaha, kita juga harus mengimbanginya dengan berdo’a. Dan jangan sampai, karena kita terlalu sibuk mengejar target di dunia, kita jadi lupa kewajiban sebagai hambaNya. Kita mampu berkarya sedemikian luar biasa, namun apa gunanya bila ibadah saja  asal-asalan? Hmm, sombong sekali kita ini. Maka dari itu, yuk kita imbangi antara ilmu pengetahuan dengan ilmu agama. Sehingga, kita tidak hanya menjadi pemuda yang cerdik akal, namun kita juga bisa menjadi sosok pemuda yang religius dan berkarakter.


Kawan, jangan  mau jadi manusia yang biasa-biasa saja. Jadilah manusia dengan kontribusi yang luar biasa. Dan dengan mengingatNya serta terus berusaha menjadi hamba yang lebih baik, semoga perjalanan menuntut ilmu kita dinilai sebagai ibadah oleh-Nya. Amiin.

Yap, inilah akhir dari pertemuan kita kali ini. Semoga dilain waktu saya bisa berbagi tips lagi dan bisa bertukar tips juga dengan kawan-kawan.

Salam,

Ordinary Girl:)

Everything about me

Hai, ini wordpress saya… Yap, selamat datang *gelar red karpet**tabur bunga *. Di posting-an pertama ini, saya mau ngenalin diri. My full name is Alfiyanti Rohmah *gaya orang lagi di interview*. Saya bukanlah manusia sempurna tapi saya berusaha menyempurnakan apa yang saya punya *tsaaah*. Saya lahir di Bojonegoro, tau kan? Tau lah pastiiii…. Lahir tanggal 29 April, 16 tahun yang lalu. Cukup deh yaa perkenalan tahap awalnya, kalo mau lebih lanjut, bisa kok minta pin BB atau nomer handphone *modus*.

Oke, layaknya anak-anak pada umumnya, saya juga punya akun twitter facebook instagram dan medsos lainnya keluarga *yaiyalah-_-*.  Saya anak pertama dari dua bersaudara.

Biografi singkat saya, saya dulu pernah duduk di bangku warna warni yaitu TK Melati. TK paling WeOWe menurut versi saya. Lanjut, saya juga pernah merasakan masa-masa SD, dulu sekolah di SDN IPK Ciriung 1 yang sekolahnya bersebrangan dengan SDN Ciriung 4. Selanjutnya saya melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 2 Cibinong yang punya nama keren “Doea”. Yap, disinilah saya merasakan yang namanya “remaja itu indah”. Kenapa? Oke, kapan kapan kita sharing dilain waktu yaaa 😀

Nah, setelah 3 tahun merasakan bangku SMP, tibalah saatnya menjajaki pendidikan yang lebih tinggi yaitu *jeng-jeng-jeng*  SMA  SMK. Iya,saat ini saya duduk di kelas XI. Sekolah dimana? Disini nih –> http://smkn1cibinong.org/main/

Kenapa? Anak SMK juga bisa kok layaknya anak SMA 🙂 Disini masa ini nih lagi seru serunya. Kamu bisa merasa sebijak-bijaknya Mario Teguh tapi bisa kekonyol konyol nya Mr. Bean.

Bener kata orang jaman “dulu”, masa-masa SMA/SMK itu masa yang menyenangkan. Saya baru 1,5 tahun duduk di bangku SMK, tapi saya sudah melewati banyak moment seru, gokil, alig (baca: gila) , galau, sedih, kesel, sebel, nano nano deh. Beneran ini mah, ngga di dramatisir. Buat ade ade yang belom SMA/SMK, nanti rasain deh gimana rasanya. Kamu yang tadinya memiliki sifat kekanak-kanakan akan berubah menjadi dewasa sedikit lah haha. Dan buat yang udah lewat masa SMA/SMKnya, tenang aja mba-mba dan mas-mas, kalian masih bisa kok buka foto album kenangan tempo doeloe hehe.

Oh iya, di SMK yang saya cintai ini *eaa* , saya mengikuti Organisasi Siswa Intra Sekolah. Iya, bener, OSIS. Trus saya juga ikutan organisasi yang namanya KLOKER Millenium atau Kelompok Konselor Remaja Millenium. And then, Alhamdulillaah saya juga dikasih kesempatan sama Allah buat ikutan ekstrakulikuler yang namanya Rohis atau Rohani Islam. Yayayaya, dari sekian anak Rohis, mungkin saya lah akhwat yang paling gesrek xoxoxoxo. Satu lagi nih, saya juga ikutan ekstrakulikuler yang namanya English Club. Terakhir, Allah memberi suatu amanah yang cukup berat. Iya, saya menjadi bagian dari pengurus Forum Anak Daerah Kabupaten Bogor periode 2014/2017.

Wah, ngga kerasa dari tadi saya udah ngoceh panjang lebar haha. Udah dulu yaa perkenalannya 😀

Salam manis dari orang terlanjur manis,

Yapay